Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Pakar Kuliner UGM Bicara Olahan Rendang Daging Babi

Jakarta - Menu masakan Padang non halal sempat membuat heboh belakangan ini, karena makanan yang identik dengan menu halal tersebut menyajikan menu rendang daging babi. 

Pada umumnya masakan Padang seperti rendang selalu dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang halal seperti daging sapi atau kerbau, karena munculnya daging non halal sebagai bahan utamanya tersebut jelas menyebabkan perdebatan di masyarakat.

Pakar kuliner dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Larasatie Nur Fibrie mengatakan bahwa daging babi bisa saja dijadikan sebagai rendang karena cara memasak rendang yang dapat membunuh berbagai parasit dan bakteri yang banyak berada dalam daging babi.

"Melihat dari sisi mikrobiologisnya daging babi kan memang mengandung banyak bakteri dan parasit jadi jika dimasak dengan tehnik seperti itu maka akan membunuh semua parasit dan bakteri didalamnya," ucap Dwi.

Dwi Larasatie juga mengeluarkan pendapatknya bahwa seharusnya sah-sah saja seseorang membuat restoran masakan padang berbahan baku daging babi.

Hal ini dia dukung asalkan dalam memasarkan produknya pengusaha restoran tersebut memberikan keterangan secara gamblang di restorannya bahwa bahan yang dipakai adalah daging babi.

“Mungkin si pengusaha ini ingin melayani segmen orang yang mengonsumsi babi, kalau mereka mau menjadikan rendang kan boleh dong? Masa enggak boleh,” ujar Dwi melanjutkan.

Tapi Dwi juga berpendapat bahwa dalam setiap makanan tradisional mempunyai jati diri, termasuk rendang khas Minang yang hampir selalu dimasak dengan bahan-bahan halal.Menurut Dwi Larasatie menu tersebut seharusnya tidak boleh sampai menghilangkan jati diri makanan tersebut.

“Kalau jati diri makanan tersebut sampai hilang, maka sebaiknya mencari nama lain,” kata Dwi Larasatie. 

(Ara-Obrolanesia.com)

Post a Comment for "Pakar Kuliner UGM Bicara Olahan Rendang Daging Babi"